Jumat, 25 April 2008

Mungkin atau dimungkinkan...

Jejak kaki tapak maya
retak sana sini
terkena alur alir air.
Tiga badai lagi kabur dan sirna...(henry)**


Agar unggul dalam sebuah kompetisi yang dalam tanda petik " Maju tidak tertinggal", layak artinya untuk lebih terbuka serta tanggap akan hal yang bersifat inofasi tanpa harus meninggalkan perbaikan mutu dari proses yang terjadi. Di dalam perkembangannya Panjat Tebing diawali dengan berbagai pujian yang sangat melambungkan, kemudian mulai memasuki proses seperti halnya manusia, lahir dan tumbuh besar, cepat atau lambat akan menghadapi berbagai macam dinamika publik.

Dimanapun ada manusia , maka disana pasti akan ditemukan berbagai macam nilai- nilai, ide, keyakinan, sikap serta berbagai macam batasan batasan yang mungkin lebih akrab disapa standart. Konflik diantara personal ataupun Badan dengan personal hampir tidak terbatas dalam berbagai macam kontek, benturan- benturan sering terjadi karena masing - masing individu memiliki berbagai macam kepentingan dan kebutuhan.

Diciptakan berbeda untuk saling mengenal satu dengan lainnya sama lain, bukan berarti harus berkonflik jika semua dapat di kendalikan, tetapi jika harus berkonflik mungkin tidak akan berarti apa - apa jika nantinya semua syarat - syarat yang diminta dapat di negosiasikan (yang ini mendewasakan), akan tetapi jika semua yang ada sudah menjadi buta matanya juga tidak dapat lagi menimbang segala untung rugi dengan mengedepankan ego, atau bahkan kemudian memilih memasuki kawasan intrik, maka itu sudah menjadi sesuatu yang menghancurkan semua kebaikan dari apa yang hendak dituju.

Aku adalah salah satu pasel dari berjuta - juta pasel sebuah potret dari Panjat Tebing Indonesia, aku menyaksikan sebuah kemenangan, kesedihan, kesombongan, patah tumbuh hilang berganti, atau teman yang terkadang menghianati (SLANK) . Intrik mulai dari bentuk yang smooth sampai pada tataran yang menurutku tidak lagi masuk di akal, yang kesemuanya itu mengarah pada bentuk - bentuk penghancuran diri sendiri.

Mengapa "kemajuan ?" karna kita tak ingin hanya sekedarnya, mengapa harus lebih dari sekedarnya? karena kita tak ingin tertinggal, mengapa tak ingin tertinggal? karena kita ingin ditinggal, kenapa tak ingin di tinggal? karena kita tak mau sendiri... karna bila sendiri tak mungkin bisa berbagi...


Apakah pilihan sudah jatuh pada kalimat," spesies terbaik adalah bukan karena kuat, tetapi karena mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungannya".

Apabila pada awalnya kita semua melihat sisi dari sebuah gambar PANJAT TEBING dengan baik dan benar, terang dan tidak buram. Adalah muncul sebuah pertanyaan, "bilakah kita secara bersama dapat melihat kembali bentuk gambar itu, akankah kita yang menjadi pasel- pasel itu secara bersama menyusunkan bentuk dan pola dengan kesadaran diri bahwa letak serta porsi kita berada di tempat yang seharusnya ?"

Ataukah aku hanya akan mengutip sebuah kalimat dari pendahuluku, "Ketika semua tebing telah rata dengan tanah..., maka akan kudirikan sebuah di hatiku, dan akan ku panjati setiap hari"

Atau ini hanya akan jadi sebuah pilihan terakhir bagi ku seperti kalimat diatas**...

Apakah kita bisa "memungkinkan" semua ini... Ayo Jogja!!

0 komentar:

Posting Komentar