Selasa, 06 Mei 2008

alas ondo wurung surogentho dan sardulo petak

Wah kok ra tekan - tekan toh (kok ngga sampai sampai sih)... beban berat serta udara panas, mulai mempengaruhi suasana perjalanan... Gluk... gluk... gluk ...ah air di veples tinggal setengah intipku di lubangnya yang terlihat beriak saat digoncang, kelat di lidah hilang segar sementara... Keringat gak berenti berenti keluar dari pori - pori, lengan terangkat, ketiak dekat dengan hidung ...ehm aku lupa ga pakai rexona rupanya... Angin jarang berhembus, atau mungkin malas datang aja, karna hanya disuruh ngajak pergi bau badan yang ...he..he..he.. ngaco lagi. Jalan setapak ngga begitu lebar kadang memotong ladang singkong. Kebanyakan daerah ini di penuhi dengan semak belukar khas daerah gunung kidul, agak sedikit lega bila terkadang melewati hutan jati walau ngga begitu rapat tapi lumayan lah sedikit terlindung dari matahari, batu- batu kapur tajam dan juga tanah lempung sepanjang perjalanan... Ini udah 2 jam perjalanan naik turun lembah, mataharinya terasa ada tiga dan bla...bla...bla... Hari Selasa di tahun 2001 bulan November awal minggu... waktu itu Kantor PARIGI INDONESIA masih di dusun sedan. datang dua teman mampir di penghujung malam, Agak lama juga Robert dan mas Cumbo gak datang ke kantor, mungkin sibuk dengan urusan FPTI... ndrik sibuk gak? tanya mas Cumbo mengawali pembicaraan... la piye tho mas? tanyaku balik... ada tawaran untuk kita dari mas Beki... oh ya ... aku langsung ngeh... kapan brangkatnya mas ? hari kamis langsung ke lokasi... daerah itu namanya Alas ondo wurung... wah kita cuma punya waktu sehari untuk siap - siap ya. Peralatan Panjat beberapa sudah siap... , Robert sudah kontak MAHABIRU dan mereka bisa meminjamkan 1 Roll kernmantel Dinamis jadi kita hanya kurang kernmantel statik... kita pinjam dari dari GAPADRI aja mas kataku... oke kalau begitu sudah lengkap berarti mas, sahut Robert. Pembicaraan berlanjut dengan menyusun rencana perjalanan..., mungkin karna kebiasaan kami dan juga cuaca malam di dusun itu sepi dan dingin pembicaraan kami pun semakin ngalor ngidul... Keberangkatan dari desa terakhir jam 16.00 dan kita sampai di lokasi 18.35. Ternyata lokasinya di dekat laut atau tepatnya di pinggir Jurang yang langsung laut...anginnya santer dan suara gemuruh ombak terdengar cukup santer, Deeeerrrrr!! sambung menyambung ... Laut yang sudah berwarna gelap sedikit berwarna terang pemandangan yang tersisa dari sunset di batas horison, seperti garis pendek dari kiri ke kanan yang sedikit bruwet... Kita ngecamp di pondok dekat ladang yang di sana mas kata si penunjuk jalan... guk... guk...guk ... jancuk ono kirik mas sahutku. Yo jelas kirik kuwi Ndrik, duk suworone wong.. he... he...sahut Robert (dengan logat suroboyo kental), loh ono loh sing suworone koyok ngono, debat mas kumbo, sopo mas?sopo? opo koncone dewe? tanyaku. Wah nek kuwi ra melu melu sela Robert, tiba - tiba mungkin kami teringat salah satu sosok "teman" di FPTI jogja ... ha...ha..ha..ha Pondok ini lumayan bersih, meski ada beberapa tumpukan jagung kering yang belum sempat di bawa pulang oleh si pemilik ladang, juga serpihan kulit kayu. Atapnya dari alang - alang di jepit oleh bambu dengan konstruksi tiang dari kayu akasia, dindingnya dari gedek berwarna abu - abu saking keringnya, ada satu dua semut kerja dipojok sana, didekat sarang laba laba yang tinggal setengah. Bekas perapian di kelilingi batu- batu kapur dengan sedikit bara yang tertinggal di antara serpihan arang, asap yang meliuk begitu tertiup angin, ehm ... segar tercium aromanya meski sedikit terganggu oleh bau tubuh beberapa orang prengus ini ...Bau jagung bakar... bikin lapar aja... bruk! bruk! ransel dan bursak ku taruh di tanah dan langsung kusandari seraya tangan meraih veples dan gluk...gluk dan lagi dan lagi ...huh...!! Gawe anker neng kono ndrik kata Robert seraya menunjuk titik lokasi awal start dekat bibir jurang, akupun beranjak menuju arah yang di tunjuk olehnya... ada pohon jati dan hamparan batu kapur, disana sudah menunggu 3 orang bapak - bapak yang mengantar kami kemari semalam. Tiba - tiba kakiku terasa geli dan jantungku berdesir... Tolong pak ojo minggir - minggir, ku peringatkan mereka sambil memasang seutas webbing pada pangkal pohon jati yang kurang lebih 15 cm diameternya , kusimpul delapan tersambung dengan carabiner screwgate oval buatan kong, ku ulirkan kearah mengunci pol dratnya dan ku kendorin sedikit agar ngga susah nanti waktu membuka. Click cowstailpun terpasang dan mulai aku meraba hamparan batu kapur sambil ku ketukkan palu ke bagian batu tersebut, ah... ini dia. Ting! ...ting!!...ting!!! suara logam beradu dari hammer dan piton jenis lost arrow sewaktu kupasakkan kecelah sempit. clik! clik! equalizing...ku hentak - hentak kernmantel yang panjangnya sudah tidak utuh ini (kira kira 25 meter) , ehm ... dan mulai ku pasang grigri ku perlahan kutepuk tepuk semua peralatanku mulai yang di dada (croll), pinggang, samping kiri kanan depan belakang... grigri ku sentuh dan mulai ku tarik tali dari grigri ehm ...perlahan kupegang harness di pinggang dan ku goyang sekeras kerasnya, ah gak ada yang berubah dari tempatnya pikirku lega. Jiro jiro jiro, jirolu jirolu gumanku perlahan, ah ini sih kebiasaan ku untuk memupuk keyakinan dan atur detak jantung aja... TUHAN BERSAMA ORANG BERANI... begitu doaku terpanjatkan, kernmantel menegang, kutarik tuas grigri lembut dan kuulur perlahan kernmantel sambil perlahan menapak sedikit ke kanan menuju teras kecil yang menurut pengetahuan para pengantar tepat dibawahnya lah lokasi tempat tersebut, Ndrik onok ngon nggo gawe pengaman gak selain pohon di teras sempit kuwi teriak robert keras diselingi deburan suara ombak dibawahku...oh laut yang liar di bawah sana, yang luarbiasa itu gelombangnya besar dan suaranya menggelegar begitu menyentuh gigir tebing, lumayan dalam jurang ini...kira kira satu setengah tali menurut perkiraanku. Ah deg deg deg suaranya jantung semakin banter aja kaya mau balapan...benar juga idiom bahwa batas antara pengecut dan hati - hati sangat tipis, tapi rasa takut beda dengan pengecut...takut penting di pelihara... Tempatnya bagus buat pitch untuk membelay nanti Bert sahutku. Matahari bersinar cerah, angin lembut berhembus, tanganku sibuk memasang pengaman di teras kecil ini, paling tidak ada tiga yang sudah terpasang...clik!clik! simpul pangkal dan terakhir simpul delapan ... ROPE FREE.... teriakku keras... kemudian semua peralatan ku atur tergantung rapi, agar lebih mudah memilihnya nanti, kemudian mas cumbo terlihat turun menyusulku... clik! dan clik! piye mas langsung po? seraya tanganku menyambut bursak yang dibawanya...sebentar dia melihat instalasi di pitch dan melengok kebawah...ada dua lintasan tali yang terpasang terjuntai kebawah.. tangannya memindah descendernya ke tali kernmantel statis warna putih ... dia kemudian mengambil ancang- ancang tepat sebelum Robert datang menyusul. Ati - ati mas... mas cumbo mulai turun perlahan, aku sibuk membantu Robert yang membawa semua perlengkapan kami termasuk perlengkapan masak dan logistiknya. BYUR! .... Naik bulu kuduk ku seraya cepat kami melihat kebawah. Satu yang terbesar jatuh, sempat di ikuti pandangan mata setelah di usik kaki mas cumboawalnya terlihat bergeser perlahan kemudian lepas dari tebing dan jatuh semakin cepat disambut lompatan air beriak dan suara yang keras...Tebing ini sedikit over hang, batuannya mengalami pelapukan. sepertinya belum pernah ada yang menuruni tempat ini. Terayun - ayun sedikit berpendulum berusaha meraih sebuah celah dan dipasaklah sebuah bong - bong (jenis piton untuk celah yang sedikit besar) pada celah yang memanjang ke atas. kemudian sedikit demi sedikit tanpa terasa sudah satu jam mas cumbo di bawah sana. Bert ketok e aku susul sekarang seraya ku pasang descender auto stop pada lintasan tali lain dan mulai aku turun menyusul dengan perlahan ku sematkan taliku pada pengaman yang telah terpasang agar aku dapat rapat pada tebing, satu persatu sampai akhirnya aku sampai pada tempat mas cumbo...drik tepat di bawah kakiku pasang piton trus kamu turun coba orientasi medannya... piton terpasang dan aku mulai turun lagi tepat di depanku terlihat sebuah roof yang panjangnya kira kira 15 meter dengan batuan kapur berwarna hitam dengan sedikit sekali cacat batuannya... piye wes ketok guwone ndrik.... ! wes mas Jawabku. Kira- kira segede pantat mobil truck lebarnya... Gak puas rasanya hanya melihat dari atas, ku remas handle auto stop, sampai batas tiga meter perkiraanku dengan gelombang laut sejajar dengan mulut goa yang terlihat gelap, sedikit samar - samar terkena bias embun air hasil gelombang yang menghempas tebing. Ku kunci descender dengan melilitkan tali dan mulai kuamati kembali areal ini, sampai suatu ketika... Pandanganku beralih pada gelombang laut yang dekat dibawahku, tersembul karang yang halus tanpa terlihat sedikitpun tonjolan atau pun kasar seperti karang pada umumnya... berwarna coklat muda blentong - blentong hijau, putih, hitam dan eh..?kok ...?? loh !?? #### karangnya pindah tempat ####. Itulah waktu terlama dalam hidup, seakan semua berjalan sangat lamban sekali ketika ... Ku pasang jumar pada tali seraya meraih footloop, sedikit tarikan dan oh..croll pun terpasang darah ku makin tersirap, detak jantung gak bisa terkendali semakin dingin rasanya tubuh di cuaca terik ini....tanpa ba bi bu atau lepas descender aku mulai melaju naik keatas, meskipun beban tali yang tersisa terasa berat dan menggangu, kucoba berusaha mengejar mas cumbo yang sudah terlihat hampir satu tali diatasku, begitu mas cumbo terlihat sudah menginjak teras pitch, sekilas aku teringat tentang obrolan sebelum tidur semalam, tentang sesuatu yang aneh di daerah ini, sesuatu yang mistik ...TO BE CONTINUE

0 komentar:

Posting Komentar