Sabtu, 06 September 2008

AID CLIMBING
















Aid climbing/ artificial climbing adalah gaya pemanjatan dimana pengaman yang ditempatkan pada tebing digunakan untuk membantu menambah ketinggian, Pemanjatan ini berbeda dengan pemanjatan free climbing yang sama sekali tidak menggunakan bantuan dalam usahanya menambah ketinggian.

etrier/stirup,sky hook, daisy chain pada pemanjatan ini kerap di gunakan, lebih mengutamakan aspek teknis dibandingkan dengan aspek fisik atau kebugaran bila dibandingkan dengan Free climbing.




Pemanjatan khas artificial, pemanjat menempatkan pengaman/ Anchor yang sesuai pada celah atau cacat batuan, kemudian pemasangan tangga gantung /é trier sebagai tempat pijakan kaki, pengaman yang telah terpasang itu haruslah di periksa dengan memberikan hentakan dengan seluruh beban badan, dalam hal ini dibutuhkan perhatian dan konsentrasi. Apabila kondisi pengaman sudah di yakini terpasang dengan baik dan aman, daisy chain dipasang menyusul kemudian tali utama di klipkan. Proses ini di lakukan berulang ulang sampai Perintis jalur sering di sebut leader memutuskan untuk berhenti merintis jalur dan membuat stasiun pemberhentian atau pitch atau penambatan.

Disini leader akan memasang beberapa pengaman untuk penambatan yang terhubung satu dengan lainnya serta memasang satu tali bebas yang disebut fix rope. Pitch berfungsi sebagai tempat : Istirahat,pergantian tugas personil,serta Houling system. Di titik ini akan terjadi pergantian pemanjatan dimana leader akan berganti mengamankan pemanjatan orang yang tadinya mengamankan pemanjatannya( belayer) atau dia dapat terus melakukan pemanjatan dengan menggunakan tali yang lainnya (solo aid climbing). Sedangkan timnya menyusul naik dengan bantuan alat mekanik (ascender) jenis Jumar melewati fix rope (Jumaring). Sementara personil lainnya bertugas mengangkat kantong yang berisi logistik peralatan, makanan dan perlengkapan lain pendukung pemanjatan. Banyak variasi dalam pemanjatan ini mungkin juga mencakup teknik pemanjatan bebas (free climbing), taktik, gaya (himalayan/ alpine) dan jumlah personil.





piton, sebagai pasak yang di tempatkan pada celah yang sesuai kemudian di pukul dengan palu (Hammer) sampai dinilai mampu berfungsi menahan beban jatuh pemanjat sampai tahun 1940 an menjadi satu – satunya pengaman yang digunakan pada pemanjatan artificial di tebing. Sampai kemudian di temukan beberapa pengaman jenis pengaman lainnya. Pemanjatan ini sangat khas dilihat dari tekniknya maupun dari peralatannya, penggunaan peralatan seperti skyhook, daisychain, piton, Copperhead, palu, jumar, etrier, pulley dan masih banyak lagi jenis peralatan, melakukan Jumaring, houling system dalam menarik semua logistik ke atas, teknik pendulum untukberpindah jalur. Penemuan SLCD atau lebih dikenal dengan nama friend, mendorong pemanjatan menjadi lebih kearah yang lebih memelihara keutuhan jalur pemanjatan, yang kemudian dikenal sebagai clean aid.

0 komentar:

Poskan Komentar